Semarak Bulan Bahasa SMP Arnoldus: Lomba Cerdas Cermat dan Mading Kreatif Pukau Dewan Juri
Hari kedua Semarak Bulan Bahasa di
SMP Arnoldus, Selasa (27/10/2026), berlangsung meriah dan penuh tensi tinggi.
Berpusat di aula Arnold Janssen d'Hall, ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) dan
pameran majalah dinding (mading) sukses menarik perhatian warga sekolah.
Suasana kompetisi terasa jauh
lebih tinggi dibanding hari sebelumnya. Sebanyak tujuh kelompok rumpun kelas,
mulai dari rumpun A hingga G yang masing-masing merupakan gabungan siswa kelas
VII, VIII, dan IX, berlomba-lomba menunjukkan kemampuan terbaik demi menjaga
gengsi dan nama baik rumpun mereka.
Dewan juri LCC, Delcy, mengaku
terkesan dengan tingkat persaingan yang disajikan para peserta. Menurutnya,
anak-anak tampil sangat percaya diri karena persiapan yang matang.
"Perlombaan hari ini sangat
seru dan menegangkan," ujar Delcy. Kendati demikian, ia memberikan catatan
evaluasi bagi panitia untuk pelaksanaan di masa mendatang. Delcy mengusulkan
agar durasi perlombaan ditambah guna mengoptimalkan penggalian bakat dan daya
saing akademis siswa.
Ia juga menyoroti sistem
penggabungan tingkat kelas dalam satu rumpun. Menurutnya, format tersebut
membuat dominasi siswa kelas atas lebih terlihat.
"Ke depan, perlu ada
pembedaan antarkelas, misalnya kelas VII melawan sesama kelas VII, begitu pula
kelas VIII dan IX. Juara dari masing-masing tingkatan baru diadu kembali untuk
mencari yang terbaik. Jika digabung seperti sekarang, jawaban cenderung
didominasi kelas VIII dan IX, sehingga potensi dan keterampilan anak-anak kelas
VII kurang terpantau secara utuh," tegasnya.
Menanggapi sistem perlombaan yang
langsung melompat ke babak final tanpa babak penyisihan, Kepala Sekolah SMP
Arnoldus, Bruder Jack Gosy, menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil demi
efisiensi waktu.
"Waktu kita sangat terbatas.
Oleh karena itu, tanpa perlu banyak pertimbangan, kita langsung ambil
perwakilan dari setiap kelas, gabungkan dalam rumpun sesuai abjad, lalu
lombakan," jelas Bruder Jack.
Di luar ketegangan LCC, sorotan
juga tertuju pada Lomba Mading yang menampilkan kreativitas tinggi dari para
siswa. Dewan juri mading, Fardy dan Bergita, mengaku harus bekerja ekstra
hati-hati dalam menentukan pemenang karena tingginya kualitas karya yang
disajikan.
"Keterampilan dan bakat
siswa-siswi patut diapresiasi. Karya mereka sungguh luar biasa indah dan
menarik. Ini tentu berkat kerja keras mereka bersama para wali kelasnya,"
ungkap Fardy.
Melihat antusiasme tersebut, Ketua Panitia Bulan Bahasa, Heri, bersama jajaran panitia memutuskan untuk memperluas kategori juara, tidak hanya peringkat 1 hingga 3, tetapi juga memberikan apresiasi bagi juara 4 dan 5.
Semangat literasi yang terpancar
dari kegiatan ini turut mengundang apresiasi dari para pendidik. Wali Kelas IX
C, Miran, bahkan mengusulkan agar ajang penulisan dan kreativitas semacam ini
dapat rutin digelar setiap bulan, bukan sekadar agenda tahunan Bulan Bahasa.
"Melihat kreativitas dan
semangat anak-anak, kegiatan ini seharusnya tidak hanya ada di Bulan Bahasa,
tetapi juga diagendakan per bulan. Wali kelas juga punya kewajiban untuk
mendukung serta memotivasi minat menulis dan membaca anak walinya," ujar
Miran.
Ia berharap pihak sekolah dapat
terus memperluas ruang berekspresi bagi siswa, khususnya pada momen-momen
khusus seperti perayaan Natal dan Tahun Baru, Hari Kasih Sayang, Paskah, hingga
akhir semester.
"Momen-momen ini perlu
diabadikan lewat tulisan anak-anak kita. Sejauh yang saya amati, yang
terpenting adalah kita memberi ruang, membuka suara, dan memberi mereka
kebebasan untuk berkreasi," pungkas guru yang dikenal aktif mendorong
budaya literasi di SMP Arnoldus tersebut.






