CERPEN "KERINDUAN KAKEK"
KERINDUAN
KAKEK
Oleh: Anisia Ekaputri Muliadi
Siswi SMP Arnoldus, Kelas IX D
Pada 17 Agustus 1945 adalah hari kemerdekaan negara
Indonesia. Sudah menjadi kewajiban masyarakat Indonesia untuk merayakannya
dengan berbagai kegiatan atau acara tertentu. Salah satu kegiatan yang sangat
identik yaitu perayaan lomba Agustusan. Sebagai orang Indonesia, kita harus
mengenang jasa para pahlawan yang telah berusaha memerdekakan negara ini dengan
mengibarkan bendera merah putih, selalu berdoa, dan mengucap syukur karena
mereka telah membuat negara ini menjadi negara yang seperti sekarang. Dengan
mengetahui bagaimana perjuangan mereka, maka kita bisa menjadikannya sebagai
pelajaran.
Pada suatu pagi yang cerah, seorang kakek sedang duduk
di sofa sambil meminum kopi. Di dalam sebuah ruangan yang ditempati kakek
tersebut terlihat barang-barang yang tertata rapi di tempat masing-masing. Ketika
kakek itu ingin meletakkan cangkir kopi di meja, tiba-tiba ada yang membuka
pintu ruangan tersebut. “Halabeoji, yeogi eumsig ibnida” (kakek, ini makanannya),
kata seorang wanita sambil meletakkan makanan milik kakek. “Aaa… ye,
gamsahabnida” (oh iya, terima kasih), jawab kakek sambil mengambil makanannya.
“Halabeoji, naega meonjeo jibeul cheongsohalge” (kakek, saya akan membersihkan
rumah dulu), kata wanita itu sambil berjalan keluar menuju pintu. Kakek itu
mengangguk sambil memakan makanannya. Kakek itu bernama kakek Ardiman, dia
berusia 98 tahun, dan berasal dari Indonesia. Semenjak anak tunggal dari kakek
itu menikahi seorang pria yang berasal dari Korea Selatan, kakek itu pindah tepatnya
di kota Busan bersama anaknya. Istrinya telah meninggal 40 tahun yang lalu dan tidak
memiliki anggota keluarga selain anaknya sendiri, itulah mengapa dia memilih
untuk tinggal bersama anaknya. Walaupun kakek Ardiman memiliki keluarga baru
dan memiliki ekonomi yang cukup, dia masih saja merasa kesepian dan sangat
rindu dengan negara Indonesia yaitu tempat dimana kakek Ardiman lahir dan
dibesarkan di sana. Kakek Ardiman ingin sekali pergi ke Indonesia, tetapi
karena mengetahui jika anaknya yang sibuk mengurus pekerjaan dan cucu-cucunya
membuat kakek Ardiman mengurungkan niatnya. Sebenarnya kakek Ardiman bisa saja
pergi ke Indonesia sendiri, tetapi itu merupakan hal yang tidak memungkinkan,
karena mengingat umur yang sudah tua dan kondisi kesehatan yang kurang baik.
Pada sore hari, jam menunjukkan pukul 5 sore. Keadaan
di luar rumah sangat ramai dan cukup berisik. Bagaimana tidak, hampir semua
orang sedang menyiapkan kegiatan untuk memperingati hari kemerdekaan Korea
Selatan tepatnya pada 15 Agustus yang diadakan esok hari. Jadi, tidak heran
mereka merayakannya dengan berbagai kegiatan atau acara. Mengetahui hal itu, kakek
menjadi teringat kejadian masa lalu. Dimana kakek Ardiman merupakan salah satu
orang yang terlibat dalam membantu kemerdekaan Indonesia. Dia bersama
teman-temannya berusaha agar tercapainya kemerdekaan Indonesia. Hingga akhirnya
pada 17 Agustus 1945, Indonesia merdeka. Saat itu kakek merasa senang, bahagia,
dan bangga terhadap dirinya, teman-temannya, dan para pejuang. Beberapa tahun
kemudian, kakek Ardiman menikah dan memiliki seorang anak. Awalnya kakek merasa
bahagia karena telah memiliki keluarga yang sangat dia sayangi, tetapi
kebahagiaan itu hilang setelah kepergian istrinya pada tahun 1983. Kesedihan itu
menambah ketika dia tinggal di Busan, Korea Selatan. Semenjak tinggal di Busan
kakek Ardiman sangat merindukan kenangan-kenangan bersama istrinya, merindukan
teman-temannya, suasana di Indonesia, dan merayakan kemerdekaan Indonesia. Dia tidak
bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa menyimpan memori-memori itu dalam pikirannya
dan memendam sendiri. Saat sedang mengingat kejadian itu, tiba-tiba air mata
milik kakek Ardiman jatuh dan membasahi pipinya perlahan-lahan. Dari hati yang
sangat tulus, kakek Ardiman hanya ingin pulang ke Indonesia, bernostalgia di
sana, dan ingin sekali pergi ke pemakaman mendiang istrinya. Tanpa sengaja dari
kejauhan anak dari kakek Ardiman yang bernama Asmawati memperhatikannya dengan
raut wajah yang sedih.
Saat sore hari menjelang malam, kakek Ardiman sedang
berjalan di atas trotoar dan tak lupa memakai tongkat untuk menjaga
keseimbangannya saat berjalan sambil melewati sebuah taman. Taman tersebut
letaknya tidak jauh dari rumah kakek Ardiman. Jadi, tidak perlu dikhawatirkan,
dan juga banyak kakek-kakek dan nenek-nenek yang berjalan di sekitar taman
tersebut, sehingga kakek Ardiman tidak sendirian. Saat sedang berjalan, tiba-tiba
kakek Ardiman hampir terjatuh karena tongkatnya menginjak salah satu batu di
sekitar taman tersebut. Tetapi, untung saja seseorang membantunya. “Gwaenchanheuseyo,
halabeoji?” (apakah kakek tidak apa-apa?), tanya seseorang dengan wajah yang
khawatir. “Ahahahahaha, ye gwaenchanhayo” (ahahahahaha, iya tidak apa-apa),
jawab kakek. “Geogi anjja, halabeoji” (ayo duduk di sana, kakek), kata
seseorang sambil memegangi pundak kakek. Ya memang, tak jauh dari tempat kakek
Ardiman dan seseorang itu terdapat kursi taman. Kakek Ardiman menyetujinya dan
pergi ke kursi taman sambil berjalan perlahan-lahan. Pada saat kakek Ardiman duduk,
dia langsung melihat ke arah orang yang telah membantunya. Setelah memperhatikan
beberapa detik, dia menyadari sesuatu yaitu merasa asing dengan wajah orang
itu, dan juga merasa orang itu tidak pernah terlihat di daerah tempat tinggalnya.
“Neo yeogi sala?” (kamu tinggal di sini?), tanya kakek Ardiman. “Ye, halabeoji”
(iya, kakek), jawab orang itu sambil menganggukan kepala. “Hajiman nan neoleul
bon jeogi eobseoyo” (tapi saya belum pernah melihatmu), kata kakek. “Hahahahaha,
jeoneun eoje Indonesiaeseo mag isaleul wassgo jigeumeun igose salgo isseoyo”
(hahahahaha, saya orang Indonesia dan sekarang tinggal di sini), jelas orang
itu. Mendengar perkataan orang itu membuat kakek Ardiman terkejut. “Nado
Indonesia salamiya” (saya juga orang Indonesia), kata kakek. “Serius?, kakek
orang Indonesia juga?, tanya orang itu meyakinkan. “Iya nak, nama saya Ardiman.
Panggil saja kakek Ardiman, nama kamu siapa?” tanya kakek. “Nama saya Agra”,
jawab orang itu sambil tersenyum. Setelah itu, Agra langsung menceritakan
alasan dia tinggal di Busan. Arga sengaja tinggal di Busan karena ingin
menikmati liburan musim panasnya selama 2 hari. Tak lupa juga kakek
menceritakan kejadian yang dia lakukan dulu dan perasaanya saat itu. Ketika
mereka sedang mengobrol, dari jauh terdengar ada yang memanggil kakek Ardiman.
Ternyata yang memanggil kakek adalah Asmawati. Asmawati menyuruh kakek untuk
masuk ke dalam rumah untuk makan malam. Saat kakek sudah masuk ke dalam rumah,
Asmawati berjalan menghampiri Agra sambil tersenyum. “Ada sesuatu yang ingin
saya katakan sama kamu”, kata Asmawati dengan wajah yang terlihat serius. Agra
hanya bisa diam, lalu mengangguk mendengar perkataan dari Asmawati.
Keesokan harinya, Agra datang ke rumah kakek Ardiman.
Agra disambut dengan ramah oleh kakek Ardiman dan Asmawati. Agra mengatakan
jika dia ingin mengajak kakek jalan-jalan. Mendengar perkataan dari Arga
membuat kakek Ardiman sedikit terkejut. Awalnya kakek ragu-ragu, tetapi berkat
bujukan dari Asmawati akhirnya kakek pun menyetujui. Awalnya hanya jalan-jalan keliling
kota, tapi anehnya mereka malah pergi ke bandara, dan lebih aneh lagi mereka
menaiki pesawat. Kakek Ardiman selalu bertanya kepada Arga dan Asmawati kemana
mereka akan pergi. Arga dan Asmawati hanya bisa diam dan mengalihkan pembicaran
yang membuat kakek Ardiman menjadi semakin kebingungan. Pesawat pun mendarat
dan segera menurunkan para penumpang pesawat. Ketika kakek Ardiman turun dari
pesawat, dia sangat terkejut karena dia menyadari bahwa dia berada di
Indonesia. Berarti Arga dan Asmawati membawanya ke tempat yang sangat ingin dia
kunjungi selama ini. Mereka bertiga pun masuk ke dalam bandara Soekarno Hatta.
Singkat cerita, mereka sampai di hotel untuk beristirahat. Selama perjalanan
tadi, kakek Ardiman tidak menyangka semua ini terjadi dan selalu mengucap syukur
yang membuat Asmawati tertawa melihat tingkah ayahnya itu. Kakek Ardiman juga
menangis ketika di dalam mobil Taxi.
Dua hari pun berlalu, mereka menjalani hari dengan
keliling kota Jakarta, memakan makanan khas Indonesia, pergi ke tempat wisata,
dan kegiatan lainnya. Hingga pada 17 Agustus adalah hari yang paling ditunggu
kakek Ardiman. Di hari itu kakek merasa sangat bahagia dan tidak merasa sedih
lagi. Kakek bernostalgia sambil ditemani Arga dan Asmawati. Melihat ayahnya
yang sangat senang membuat Asmawati menjadi terharu dan selalu menangis. Sejak
ibunya meninggal, Asmawati tidak pernah melihat ayahnya bahagia seperti itu.
Asmawati berterima kasih banyak kepada Agra yang telah membantunya. Arga juga
merasa tersentuh dan hampir menangis. Setelah puas dengan kegiatan yang disukai
kakek Ardiman, tibalah mereka di tempat terakhir yang akan di kunjungi. Tempat
itu adalah tempat dimana mendiang istri kakek Ardiman tinggal. Saat kakek
Ardiman memasuki tempat itu, dia langsung menangis sambil menanyakan kabar
istrinya. Kakek meminta maaf karena baru datang sekarang. Kakek pun berpelukan
dengan Asmawati. Kakek berjanji akan datang ke sini lagi, ke tampat
peristirahatan istrinya yang bernama Arjani. Arga yang melihat kejadian itu
hanya bisa menangis. Pada saat kakek Ardiman melepaskan pelukan dari Asmawati,
tiba-tiba dia merasakan sesak di dadanya. Asmawati yang melihat itu langsung
panik dan berusaha menolong. Arga juga tidak tinggal diam. Dia membantu
Asmawati untuk membawa kakek ke dalam mobil. Tapi, sayangnya kejadian tidak
terduga terjadi. Saat Arga akan memasukan kakek ke dalam mobil, kakek langsung
tidak sadarkan diri. Setelah dicek, ternyata kakek Ardiman sudah tidak
bernafas. Itu artinya kakek Ardiman telah berpulang kepada Tuhan. Asmawati
tidak terima dan memaksa ayahnya itu untuk bangun sambil menangis. Hati
Asmawati hancur berkeping-keping. Arga juga tidak bisa mehanan tangisnya sambil
menenangkan Asmawati. Di hari itulah kakek Ardiman telah meninggal dunia tepat
di hari kemerdekaan Indonesia. Mungkin Tuhan punya rencana atas semua itu
bukan? Bukannya sudah saatnya kakek Ardiman bahagia di surga bersama istrinya?
Nilai kemerdekaan selalu dikenang dalam setiap hati
masyarakat Indonesia. Walaupun dengan keterbatasan tempat, waktu, dan usia,
karena kemerdekaan Indonesia setiap saat oleh siapa pun warga Indonesia akan
selalu diperjuangan dan dipertahankan. Setiap orang pasti memiliki kenangan
atau memori terindah dalam hidupnya. Entah itu dari orang tua, keluarga, teman,
dan orang yang disayangi. Dibalik semua itu, tentu saja semuanya adalah rencana
Tuhan. Kita tidak tau kapan dan dimana sesuatu itu akan terjadi.






